Mengalir saja dan terpa bebatuannya!


Urip iku mung “wang sinawang..!”

Begitulah orang Jawa bilang, bahwa hidup itu tak lebih hanya “saling memandang pun memberi penilaian/opini..!” Melihat rumput tetangga bakal menilainya lebih hijau. Mengamati tanaman saudara, akan memandang tanamannya lebih subur, dan seterusnya.

Begitulah kita manusia, tak dapat dipungkiri memang. Namun semoga Anda sepakat, bahwa yang tak dapat dipungkiri itu bukan lantas harus selalu dibenarkan.

So, kitapun sudah sepantasnya juga harus selalu kontrol tentang memandang orang lain, bukan saja “wang sinawang” sebatas pada hijaunya pun suburnya tanaman tetangga serta saudara. Akan tetapi musti dibikin “balancing” pula. Bahwa semuanya serupa dengan kita. Ketika kita bisa sakit, tentu tetanggapun juga bisa mengalaminya. Dan tatkala kita memiliki masalah, tak bisa dipungkiri saudara kita juga memunyainya.

Jadi gak usah mengeluh, lantaran dunia ini sudah teramat sesak dengan para pengeluh. Nikmati saja alirannya…!

Pandangi saja aliran yang yang tak jarang harus menerpa bebatuannya… Karena setinggi apapun, toh ketika kita sudah berani bersinggungan dengan batu, toh pada akhirnya yang akan ditemui tak lain adalah luasnya samudera…

Curug Siklothok Menoreh

Curug Siklothok Menoreh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: