Mengalir saja dan terpa bebatuannya!

Urip iku mung “wang sinawang..!”

Begitulah orang Jawa bilang, bahwa hidup itu tak lebih hanya “saling memandang pun memberi penilaian/opini..!” Melihat rumput tetangga bakal menilainya lebih hijau. Mengamati tanaman saudara, akan memandang tanamannya lebih subur, dan seterusnya.

Begitulah kita manusia, tak dapat dipungkiri memang. Namun semoga Anda sepakat, bahwa yang tak dapat dipungkiri itu bukan lantas harus selalu dibenarkan.

So, kitapun sudah sepantasnya juga harus selalu kontrol tentang memandang orang lain, bukan saja “wang sinawang” sebatas pada hijaunya pun suburnya tanaman tetangga serta saudara. Akan tetapi musti dibikin “balancing” pula. Bahwa semuanya serupa dengan kita. Ketika kita bisa sakit, tentu tetanggapun juga bisa mengalaminya. Dan tatkala kita memiliki masalah, tak bisa dipungkiri saudara kita juga memunyainya.

Jadi gak usah mengeluh, lantaran dunia ini sudah teramat sesak dengan para pengeluh. Nikmati saja alirannya…!

Pandangi saja aliran yang yang tak jarang harus menerpa bebatuannya… Karena setinggi apapun, toh ketika kita sudah berani bersinggungan dengan batu, toh pada akhirnya yang akan ditemui tak lain adalah luasnya samudera…

Curug Siklothok Menoreh

Curug Siklothok Menoreh

Jathilan pung jrol

Pung jrol adalah istilah sebagian warga untuk menjuluki jathilan klasik, yaitu jathilan asli masa lampau yang belum dikombinasikan dengan seni tari jathilan kreasi baru.

Jathilan pungjrol masih menggunakan alat musik minimalis, sementara dandanan pakaiannya juga mengarah pada kostum wayang orang.

Baca selengkapnya juga mengenai jathilan pongjrul DI SINI..!

Jathilan klasik

Jathilan klasik

Aku! Kamu…?

Sepertinya keteguhan hati harus berkelanjutan dalam diri ketika melihat tingkah polah punggawa negeri ini.

Lantaran sebagai jelata, justru ada satu tanya yang sepertinya tak harus membutuhkan kata jawab, “masihkah di sini ada negara yang punggawanya tak ribut hanya memikirkan diri pun kelompoknya…?”

Ya…. Kenyatannya wong cilik ini butuh keteguhan hati, minimal untuk saat ini, sebelum mati. Entah mati raga, atau mati rasa.

Keteguhan hati dalam melihat kecengengan negeri. Keteguhan hati dalam mengamati tingkah polah para punggawa yang bertabiat lucu kocak namun garing ini..!

Keteguhanku, satu!

Aku! Kamu…?

Aku! Kamu…?